Mengenai Saya

Foto saya
Teruslah bergerak. hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Life is not just happy yourself, but share your happiness to those around us because it will increase happiness when shared. Donna toki ni mo inori o wasurenaide Jalmi tiasa suksés, margi gaduh seueur cara.آدَبُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2020

The Power of "Mendengarkan"*


Setiap orang yang sempurna tentu bisa mendengar, namun sayangnya tidak semua orang mau dan mampu mendengarkan. Padahal mendengarkan adalah komponen penting dalam kehidupan berumah tangga dan mengasuh anak.

Baik itu seorang ibu, ayah atau pun anak butuh untuk didengarkan mulai dari kegiatan rutinitas, pekerjaan, sekolah dan segala masalah yang sedang dihadapi. 

Menjadi seorang ibu sekaligus seorang istri terkadang membuat seorang wanita menjadi jenuh dengan rutinitas yang ia lakukan. Pekerjaan rumah yang tiada habisnya, mengasuh anak, mengurus keperluan anak dan suami tak jarang membuat istri "stress" dan butuh didengarkan segala penat yang sedang dirasakan. Hanya dengan didengarkan "mood" wanita akan kembali ceria.

Begitu juga seorang suami, menjalani rutinitas pekerjaan yang berat, serta tuntutan dari atasan membuat ransel emosi penuh dan beban ini bisa ringan ketika menceritakan kepada terkasih yaitu seorang istri.

Sama halnya dengan seorang anak, anak pun butuh didengarkan, didengarkan adalah salah satu bentuk kasih sayang dari orang tua. Hendaknya orang tua banyak mendengarkan penjelasan anak sebelum menasehatinya.

Menjadi pendengar yang baik sangat diperlukan demi kenyamanan dan keharmonisan hubungan keluarga. Namun perlu kita perhatikan bagaimana cara untuk menjadi pendengar yang baik.
Bukan sekedar mendengarkan tapi juga harus memahami apa yang dibicarakan, serta tidak memotong atau pun menyela pembicaraan apalagi mengganti topik yang sedang dibicarakan.

Mendengarkan dengan baik yaitu dengan benar-benar memberikan perhatian yang penuh. Mendengarkan tanpa memberikan perhatian justru akan menyakiti perasaan lawan bicara, maka sebaiknya dengarkan dengan memberikan kontak mata yang baik tidak menatap benda lain seperti gadget dan yang lainnya selain lawan bicara. Hal ini akan membantu kita lebih memahami kata kata yang lawan bicara diucapkan baik itu istri, suami maupun anak. 

Begitu juga dengan ekspresi wajah ketika mendengarkan, saat yang diceritakan sedih maka mimik wajah pun harus menunjukkan bahwa kita merasa empati atas masalah yang sedang dihadapi. Serta turut merasakan apa yang lawan bicara rasakan agar bisa memberikan solusi terbaik nantinya.

Selanjutnya ketika mendengarkan usahakan  untuk mencondongkan badan ke arah lawan bicara. Mencondongkan badan dan mendekati, atau bahkan memangku anak ketika ia berbicara memberikan kita energi yang diperlukan untuk menjadi pendengar yang baik.

Usahakan tidak langsung menghakimi ketika anggota keluarga menceritakan tentang masalahnya. Namun tunggu waktu yang baik untuk memberikan solusi atas masalah yang dihadapi. 

Dengan mendengarkan kita akan lebih dicintai, beban hidup akan terasa lebih ringan, dan konflik pun terselesaikan. Selain itu kelak anak juga akan belajar dari orang tuanya untuk bisa mendengarkan dengan baik pula.🙂
*Semoga bermanfaat*
Copas

Minggu, 27 Oktober 2019

Kunci cerdas anak adalah kerja sama orang tua.



https://www.instagram.com/deju_salju/



Kunci cerdas anak adalah kerja sama orang tua. #Metime
Salah satu kunci kecerdasan, etika/ bagus adab seorang anak ada pada kensep parenting orang tua. Keberhasilan anak adalah kesuksesan orang tua, keberhasilan yang sebetulnya adalah ketika anak sudah tahu benar dan salah, dan sudah mengenal siapa dirinya yakni dengan konsep sudah terpatri ketauhidan di hatinya. 😂😁😍
Anak perlu waktu bersama keluarga, diajak berbuat kebaikkan, diajak terutama mengenal Allah, diajak berbagi/ berinfaq(mengajarkan empati) , jalan jalan(menambah wawasan dan berjalan kaki lebih sehat) , memasak bersama(memupukkan kebersamaan dan melatih motorik) , mencuci bersama, dilembutkan(etika berbicara) , berkata baik(berbicara sopan) , positif (anak yang bijaksana itu karena suka terlatih dri pembiasaan hal baik) , tidak berghibah(stop bergosip(, diajak mainan tradisional(melatih asfek kecerdasan, etika, kesabaran, motorik), diajak melakukan hal kesukaannya, dihargai karyanya, dikenal teman n sahabatnya, berbagi cerita motivasi, dibacakan cerita, dibacakan kisah Rasulullah/sahabat, diajak mandiri, diajak kuat, diajak mencintai hewan, mencintai buku dll.😻💟💞
Jadi intinya adalah orang tua menjadi salah satu cerminan anak😍😅🤩.
Sebanyak apa pun les les anak (les musik, matematika, les renang, les ini, les itu) yang diikuti justru malah membuatnya tertekan bila tidak ada waktu main bersama keluarga, membuat kelelahan ditahun berikutnya, tuntutan harus rangking/ bisa ini itu tanpa penjelas membuatnya tersakiti, anak bukan robot yang harus mengikuti alur keinginan orang tua, cobalah bertanya dan dibantu, dikembangkan potensinya. (untuk usia TK dan SD, jangan banyak mengikuti banyak les).
Potensi setiap anak berbeda beda, jangan tuntut anak seperti kakaknya (itu melukai dan kita juga orang dewasa tidak mau kan dibandingkan😭😢😥??)
By the way, potensi anak itu banyak sekali.... Bukan hanya harus cerdas di satu bidang, bukan hanya harus menguasai misal maaf matematika saja. 😛😜😋
Anak suka menggambar, itu juga potensi.
Anak suka berbagi makanan, itu juga potensi.
Anak suka menyayangi hewan
Itu juga potensi toch🦉🐧🙊🐗🐺
Semua anak cerdas, berpotensi dan itu semua kuncinya adalah ada dalam penanaman pola asuh untuk anak dari orang tua.
Maka mari selamatkan anak anak kita, dengan memberikan perhatian, motivasi positif, teladan langsung (jangan sampai ada istilah anak saya ketergantungan games, hp, ps sehingga emosinya tdk bagus tapi ternyata orang tua sendiri yg membiarkan anak seperti ini misal memfasilitasi untuk membuatnya diam, anteng justru ini menghancurkannya, tidak ada waktu bersama anak, menuntut anak ini itu).
🤣😍😘 hayu sholih/ah bersama sama biar anak semakin kokoh pendiriannya, semakin kuat kepercayaan dirinya.
Anak bukan hanya butuh harta sehingga kita sibuk sana sini cari segumpal mas berlian, tapi ia perlu waktu kita juga untuk menemaninya.
Sudahkah kita pernah memuji hasil karya anak?
Sudahkah kita mengajak sholat berjamaah di mesjid?
Sudahkah raport dan kegiatan parenting anak disekolah kita gesit untuk mengambil dan mengikutinya? 😳🤭😱
Sudahkan kita bertanya hal baik apa saja yg suka dilakukan anak kita?
Sukakah kita merapikan galingan buku tulis anak anak dan memberikan tulisan di buku tulisnya, kata kata positif (anandaku, semangat ya menulisnya biar hebat)
Adakah waktu kita untuk mengajaknya potong kuku?
Adakah waktu kita untuk menonton film kartu bersamanya?
Adakah waktu berlomba bersepeda dengannya?
Sudahkan kita menstop hilang kata nakal, membicarakan ke jelekan anak kita kepada orang? (Allah saja menjaga aib kita, eleuh eleuh kita malah mengeluhkan, membicarakan kekurang baikkan anak kita pada orang😣😩😭). Berdoalah pada Allah agar anak kita berubah, dan kita memantaskan diri kembali menjadi lebih baik agar jadi teladan. Bisa jadi anak seperti itu, karena ada sikap kurang baik kita yang membuatnya berontak sehingga ia begitu begini oh doraemon (oups kok jadi ke sana 🤩😱🤭)
Bersyukurlah kita mempunyai anak, karena anak adalah harta paling mahal yang tdk bisa dibeli oleh berlian sekalipun, anak kita ini aset surga kita
Ia adalah amanah titipan berharga, yg tak sembarang kita memperlakukannya, ia mempunyai hati untuk kita jaga, ia mempunyai harapan yg tinggi, ia polos dan percaya pada kita, ia diibaratkan kertas yg putih dan kita yg akan membantu tulisan warna kehidupan apa u membantunya berjalan di bumi yang fana ini.
Bersyukurlah mempunyai anak, diluar sana banyak orang lain yg belum dikarunia anak, bahkan menantikannya bertahun tahun
-memilikinya bukan berarti harus berlebihan dalam mencintainya sehingga justru malah membuat anak tertekan, membuatnya seperti robot, tidak boleh ini itu tanpa penjelasan, harus ini itu semesntara kitanya tidak menjadi teladan.
2018 lebih cerdas, dan perhatian pada anak sesuai parentingnya
2018 kita pataskan diri bersama
2018 sama sama kembali menggapai tujuan kita ya itu Allah
Harta, jabatan, rupa adalah titipan dan titipan yang paling berharga adalah anak.
Just share. Semoga bermanfaat.
#renunganuntukdirisendiri
byDeju 
https://m.facebook.com/DeJu.Dzahabiyah https://mobile.twitter.com/Deju_Salju https://www.instagram.com/deju_salju/ https://www.youtube.com/channel/UCIftot0-HIhzTNsCxEim5zA https://mobileedukasi.home.blog/ Sit_Matahati OBJ=Orang
https://mobileedukasikarakter.wordpress.com
http://bit.ly/DejuSalju
https://mobileedukasikarakter.wordpress.com
https://mobileedukasikarakter.wordpress.com
http://bit.ly/deju_salju

Jangan Kalah DENGAN Sedekah Orang Miskin

Suatu siang. Di persimpangan jalan yang tak terlalu besar. Seorang pengendara Pajero Sport keluaran terbaru membuka sedikit kaca jendela mob...